5 Mitos Tentang Gaya Belajar


Pernahkah kamu ditanya apakah "kamu dominan otak kiri atau kanan"? Atau apa "gaya belajar kamu"? Ternyata, konsep-konsep ini tidak menceritakan kisah lengkap tentang bagaimana kamu belajar. Praktik terbaik di sektor pendidikan selalu berkembang, dan kami di sini untuk membantu menghilangkan prasangka lima mitos umum yang mungkin menghalangi kamu untuk berprestasi sebagai siswa!

 

Mitos 1: Kamu Hanya Memiliki Satu Gaya Belajar

Gaya belajar tradisional mengkategorikan semua orang sebagai pelajar Visual, Auditory, atau Kinestetik. Gagasan di balik gaya ini adalah bahwa siswa akan memahami konsep dengan baik menggunakan gaya belajar yang mereka sukai. Misalnya, dianggap bahwa siswa Visual akan belajar lebih baik dari mengamati sesuatu melalui gambar, bagan, dan grafik. Sebaliknya, siswa Auditori akan belajar lebih baik dengan mendengarkan melalui ceramah dan diskusi kelompok. Sementara itu, siswa Kinestetik lebih memilih pengalaman langsung melalui praktik pribadi, contoh, atau simulasi.

Meskipun subjek menyesuaikan dengan gaya belajar setiap siswa adalah konsep inovatif beberapa dekade yang lalu, penelitian menunjukkan sebaliknya. Ternyata, mencocokkan mata pelajaran yang diajarkan dengan gaya belajar tertentu lebih penting daripada gaya belajar yang disukai setiap siswa. Misalnya, pelajaran biologi dan matematika dapat lebih dipahami melalui praktik Kinestetik dan Visual. Sebaliknya, pelajaran musik dan bahasa harus memasukkan latihan Auditori untuk meningkatkan kinerja siswa.

 

Mitos 2: Dominasi Otak Kiri atau Kanan

Mitos populer lainnya adalah bahwa otak kita dominan kiri atau kanan. Menurut pengertian ini, seseorang yang berotak kiri adalah kuantitatif, memperhatikan detail, dan diatur oleh logika. Mereka cenderung berhasil dalam mata pelajaran seperti matematika dan sains. Sementara itu, seseorang dengan fitur dominan kanan akan digambarkan sebagai pemikir intuitif dan kreatif, berkembang dalam mata pelajaran termasuk bahasa, sejarah, dan seni.

Sementara bagian otak yang berbeda memang mengkhususkan diri dalam tugas yang berbeda, otak jauh lebih rumit daripada menjadi logis di sebelah kiri dan kreatif di sebelah kanan. Satu studi menunjukkan bahwa untuk sebagian besar, aktivitas serupa di kedua sisi otak terlepas dari kepribadian seseorang. Meskipun siswa dapat memiliki kepribadian, kesukaan, dan ketidaksukaan yang berbeda, label ini penting untuk tidak menghalangi pembelajaran.

 

Mitos 3: Kita Hanya Menggunakan 10% Kemampuan Otak Kita

Pernahkah kamu diberitahu bahwa kita hanya menggunakan 10% dari otak kita? Meskipun pepatah ini membuat orang berpikir tentang potensi mereka yang belum dimanfaatkan, itu lebih merupakan analogi daripada fakta ilmiah. Meskipun benar bahwa berbagai area otak kita memiliki fungsi tertentu, bukan berarti kita tidak menggunakannya pada waktu yang berbeda. Otak kita bertanggung jawab atas gerakan dan keseimbangan kita, pernapasan, detak jantung, dan pemecahan masalah matematika (terkadang, sekaligus!)

Faktanya adalah: kita memang menggunakan sebagian besar otak kita. Sebagian besar otak kamu aktif hampir sepanjang waktu, bahkan ketika tidur!

 

Mitos 4: Menghafal adalah Kunci untuk Mengikuti Tes

Pernahkah kamu lupa belajar sebelum ujian dan mencoba menghafal buku teks pada menit terakhir? Menghafal fakta terkadang berhasil, tetapi itu tidak memberikan waktu bagi otak untuk memproses informasi baru dan membuat hubungan dengan pembelajaran kamu sebelumnya.

Meskipun ada saat-saat ketika menghafal sangat penting, seperti mengingat fakta, angka, dan rumus, mengerjakan tes mengharuskan siswa untuk menggunakan keterampilan berpikir kritis. Secara keseluruhan, siswa cenderung tidak berhasil hanya berdasarkan seberapa banyak yang telah mereka hafal. Untuk pengambilan tes yang efektif:

  • Pahami konsep utama yang diajarkan, dan bersiaplah untuk menjelaskan contoh-contoh yang berbeda.
  • Berlatih menerapkan materi yang dipelajari dengan memikirkan situasi di mana kamu mungkin menggunakan apa yang dipelajari.
  • Beri cukup waktu untuk berlatih sebelum ujian.

 

Mitos 5: Membaca Ulang dan Highlighting adalah Strategie Belajar yang Efektif

Meskipun highligthing dan membaca ulang materi kamu dapat terasa produktif, ini adalah strategi belajar yang mendorong untuk menghafal, seperti poin kami sebelumnya. Menggunakan alat seperti stabilo dan membaca ulang informasi masih dapat membantu untuk mengingat informasi penting. Namun, ada strategi belajar yang lebih baik untuk membantu saat menghadapi ujian.

Penelitian menunjukkan bahwa menguji diri sendiri, menghasilkan jawaban, dan memberikan cukup waktu untuk berlatih jauh lebih efektif daripada membaca ulang dan menyoroti catatan dan buku teks kamu. Keterampilan seperti berpikir kritis, menerapkan prinsip untuk memecahkan masalah, dan memasukkan konsep ke dalam kata-kata sendiri akan melampaui kelas kamu.

Sementara mitos-mitos ini memiliki daya tahan yang serius, cara kita belajar jauh lebih bernuansa. Saat pemahaman kita tentang pembelajaran berkembang, label lama masih dapat menghalangi cara kita belajar —tetapi jangan biarkan mereka menghentikan kamu! Gunakan pengetahuan ini (dan tips belajar kami yang teruji dan benar) untuk membantu kamu dalam perjalanan untuk menjadi siswa internasional.

Planning to study abroad? Check out academic institutions and programs with us!

0 comments

  • There are no comments yet. Be the first one to post a comment on this article!

Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published